Messed Up No Cure

A LITTLE PART OF WORLD

0 notes

Single Review : Neon Bunny - It’s You

Puas mendengarkan album ‘Seoulight’ rilisan 2011 dari Neon Bunny, tiba-tiba saya mendapatkan kabar dari ranah Twitter bahwa penyanyi solo pemilik nama asli Im Yoo Jin tersebut akan segera merilis single terbaru dalam waktu dekat. Tentu saja ini tidak boleh dilewatkan.

Hanya beberapa hari setelah ia memberikan pengumumannya di Twitter, Neon Bunny resmi merilis single terbarunya via Mnet dan YouTube berjudul ‘It’s You’.

Menyimak single terbarunya sambil melihat karya visual yang mengiringi, tentu akan memberikan pengaruh yang begitu signifikan terhadap single ini. Dengan suasana yang gloomy, masih ada beberapa bebunyian synth, lagu ini justru terdengar sejuk.

Lupakan soal isi liriknya, Neon Bunny masih bisa menyajikan musik khas dirinya di album-album terdahulu. Tapi memang, lagu ini sangat mengingatkan saya akan lagunya yang berjudul “나와 둘이”.

Menarik untuk menunggu kelanjutan dari single Neon Bunny ini. Tapi tetap saja, saya lebih merindukan lagu-lagu Neon Bunny berikutnya yang mengusung tema-tema dan irama yang lebih sweet dan ceria.

So, we’re waiting for your next album, Neon Bunny!  

1 note

5 Korean Bands to Watch in 2014 (Not Boybands)

Tiga tahun terakhir mengikuti perkembangan K-Pop, ternyata membuat saya melupakan beberapa band favorit dari luar maupun dalam negeri yang memiliki kualitas musik mumpuni. Lama kelamaan, saya mulai jengah dengan aksi boyband-girlband Korea yang semakin seragam dan membosankan.

Terima kasih untuk internet yang membuat pekerjaan kita semakin mudah, hingga akhirnya juga bisa membawa saya berkenalan dengan lima band asal Korea Selatan yang berhasil menghancurkan stigma saya soal musik pop Korea.

Dan kali ini, saya ingin berbagi tentang lima band Korea Selatan tersebut. Bukan, ini bukan band Korea jadi-jadian macam CN Blue atau FT Island. Saya berani bertaruh dua tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Seoul untuk membuktikan bahwa kelima band ini adalah band sungguhan.

No Reply

Yang pertama adalah sebuah band pop ballad bernama No Reply. Silahkan ketikkan nama mereka di kanal YouTube atau Google, maka anda akan menemukan sebuah lagu lawas milik The Beatles berjudul sama.

Debut di awal tahun 2008, No Reply menyajikan musik pelan dengan tema-tema romantis yang membuat pendengarnya akan mengira bahwa mereka adalah pemusik langganan pengisi soundtrack drama-drama Korea.

Tapi, dugaan itu salah besar. Meskipun, lagu-lagu yang diciptakan oleh No Reply dalam empat album mereka hingga tahun 2011 memang terdengar seperti lagu pop Korea lainnya.

Coba dengarkan album mini mereka ‘Comma’ yang rilis pada 2011 silam. Maka anda bisa memberikan perbedaan dari petikan gitar dan dentingan piano yang mereka mainkan ketimbang musik-musik pop lainnya.

Belum ada data lengkap soal band ini. Sejumlah albumnya bisa diunduh di beberapa kanal blog musik indie Korea.

 Cockrasher

Berisi empat pemuda Korea yang suka dengan hingar bingar, Cockrasher adalah sebuah unit pop punk asal Seoul yang memainkan lagu-lagu a la NOFX dan Social Distortion. Saya menemukan mereka di sebuah kanal YouTube saat mereka tampil untuk stasiun TV Online, Balcony TV.

Sudah aktif bermain di skena punk Seoul sejak tahun 2004, Cockrasher jadi salah satu penampil yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang kala sebuah gig digelar di akhir pekan. Hal ini terlihat dari sejumlah video mereka saat membawakan nomor-nomor seperti ‘Turning Point’, ‘Victory’ atau ‘Call Us On Both Hands’.

Sama seperti No Reply, sedikit sekali informasi yang bisa saya dapatkan tentang Cockrasher. Sejauh ini mereka juga tampaknya belum memiliki video musik atau bahkan album rilisan. Sebagai perkenalan, saya sarankan untuk menonton aksi mereka saat membawakan ulang lagu ‘As Whicked’ milik salah satu dedengkot punk, Rancid.

Fuck K-Pop, here we go K-Punk!

 Coreyah

Coreyah adalah sebuah kolektif folk asli Seoul yang berani mengeksplor kekayaan musik tradisional mereka lewat lagu-lagu epik seperti ‘A Girl From Space’ dan ‘Walk Into See’. Perpaduan sempurna antara melodi masa kini dengan petikan Gayageum, kerincingan, hingga bebunyian tradisional Korea lainnya, membuat Coreyah sedikit rumit untuk dinikmati.

Bagi penggemar band folk asal Islandia, Sigur Ros, musik yang dibawakan Coreyah mungkin tidak begitu asing. Musik-musik yang dimainkan oleh Coreyah juga berhasil mengingatkan saya akan musisi Indonesia yang juga memiliki warna yang sama seperti penyanyi lawas Leo Kristi dan band Payung Teduh.

Coreyah sendiri diketahui sudah pernah bermain dan kolaborasi bersama beberapa musisi papan atas Korea seperti Hareem. Pada akhir tahu 2013 yang lalu, grup ini juga baru saja diundang tampil di beberapa acara musik di Edinburgh, Skotlandia.

Silahkan nikmati permainan apik band ini lewat kanal YouTube mereka, CoreyahMusic.

Neon Bunny

Pernah belajar di Berklee College of Music, Amerika Serikat ternyata benar-benar mempengaruhi selera musik seorang perempuan cantik bernama asli Im Yoo Jin ini. Nggak cuma itu, tumbuh di lingkungan klub jazz milik orang tuanya juga menjadi alasan kenapa akhirnya ia memilih musik sebagai jalan hidupnya.

Menampilkan musik-musik elektro pop yang catchy dan menggoda, membuat Neon Bunny menarik banyak perhatian pecinta musik independen. Bagaimana tidak, dikala perempuan Seoul lainnya berebut untuk masuk ke agensi K-Pop raksasa, ia malah melenggang seorang diri membuat musik dengan tingkat groovy maha tinggi.

Pengikutnya di Twitter pun tak terlalu banyak, hanya sekitar 300-an. Itu adalah salah satu bukti bahwa masih segelintir orang yang mengetahui soal dirinya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Nylon, Yoo Jin pernah mengatakan, “Sangat sulit untuk bisa survive di industri musik Korea Selatan yang didominasi para idola K-Pop. Hal ini membuat saya sedih dan terkadang saya sering berpikir kenapa mau melakukan hal ini. Tapi aku hanya mau melakukan apa yang aku suka,” ungkapnya.

Penasaran dengan aksi kelinci neon yang akan jadi kebanggaan Korea ini, simak beberapa nomor andalannya seperti ‘Come A Little Closer’. Dan.. ssstt! Saya baru saja dimention olehnya ia Twitter soal single terbarunya yang akan rilis dalam waktu dekat.

WHOwho

Saran pertama ketika anda akan mencoba mencari band ini di internet adalah, jangan coba memberikan spasi di nama band pop rock beranggotakan empat orang ini. Saya sendiri butuh waktu beberapa jam untuk mencari kembali band ini setelah beberapa bulan lalu saya baca di sebuah majalah indie Korea.

Mendengar WHOwho buat saya seperti sedang menyetel lagu Daft Punk dan Mamas Gun di waktu yang bersamaan. Musik yang mereka racik adalah perpaduan antara rock praktis dengan pop elektronik menggelitik yang sukses membuat anda bergoyang begitu mendengarnya.

Penggunaan synth yang hampir mendominasi di banyak lagu WHOwho, membuat mereka memiliki ciri khas sendiri terutama bagi penggemar luar negeri. Pelafalan bahasa Inggris yang sangat fasih juga jadi satu materi pengenalan yang berkesan serta suara sang vokalis yang membuat banyak perempuan luluh hatinya.

Sejauh ini, yang masih jadi perbincangan di dunia maya adalah lagu mereka yang berjudul ‘Her’, Dance In The Rain’, ‘Your Eyes’ dan ‘Bye Bye’.

Honorary Mention

Yoon Do Hyun Band

Nell

Sweet Sorrow

0 notes

Perang Dokumentari dan Live Recording untuk Film Musik Terbaik di Grammy Awards 2014

Grammy Awards 2014 akan segera digelar pada Minggu, 26 Januari mendatang. Ratusan artis peraih nominasi pun disambut gegap gempita oleh para penggemarnya. Nama-nama seperti Macklemore & Ryan Lewis, Daft Punk, Lorde hingga Justin Timberlake jadi yang paling dipuja di Grammy edisi ke-56 ini.

Dari sekian puluh nominasi yang akan diberikan, mata saya tertuju hanya kepada satu nominasi yang sedikit berbeda dibandingkan dengan nominasi lainnya. Yakni nominasi untuk kategori Best Music Film. Bukan video musik biasa, tapi sebuah video berdurasi panjang yang punya cerita.

Tahun lalu, sutradara dengan jam terbang sangat tinggi, Emmett Malloy berhasil menyabet penghargaan Grammy di nominasi ini lewat film dokumentarinya yang berjudul “Big Easy Express”. Sebuah video yang bercerita tentang kolektif grup musik yang terdiri dari Mumford and Sons, Edward Sharpe and Magnetic Zeros dan Old Crow Medicine Show dalam rangkaian tur mereka dari San Fransisco hingga New Orleans di atas sebuah kereta api tua.

Seperti kurang puas dengan kerja keroyokan semacam itu, Mumford and Sons tahun ini tampaknya ingin lebih menonjolkan diri mereka lagi. Hanya saja, tidak melalui album seperti “Babel” yang juga berhasil meraih Grammy tahun lalu, Mumford and Sons memilih media dokumenter tentang konser mereka di Amphitheater Red Rocks pada 2012 silam.

Diarahkan oleh duet sutradara Fred dan Nick, film berjudul “The Road to Red Rocks” menyajikan penampilan apik Mumford and Sons dalam konser sold out tersebut. Tanpa banyak basa-basi atau wawancara yang pernah mereka lakukan seperti di “Big Easy Express”, mereka menampilkan 90 menit kualitas permainan dari kuintet asal London tersebut.

Tempat konser yang bersejarah, audio live recording yang memukau, serta sinematografi yang unik jadi andalan Mumford and Sons di film ini. Satu tempat dirasa pantas untuk membuat mereka kembali memenangkan Grammy Award.

Trend dokumentari tampaknya benar-benar sedang diminati para sutradara belakangan ini. Termasuk dengan dua sutradara dari dua film lainnya yang juga masuk di nominasi ini.

Sebut saja Coldplay, yang percaya diri berani merekam keseluruhan rangkaian konser mereka sepanjang tahun 2012 silam di seluruh dunia. Aksi panggung dan kemegahan band asal Inggris ini dibalut sempurna dengan kisah-kisah belakang panggung mereka yang terjadi di stadion-stadion raksasa.

Begitu juga dengan Green Day, yang secara mengejutkan setelah merilis album triloginya pada 2012 lalu kemudian melengkapinya menjadi kuadrilogi dengan sebuah film dokumenter berjudul “Cuatro!”. Film yang berisi cerita dibalik layar proses pembuatan album “Uno”, “Dos” dan “Tre” tersebut pun laris dalam sekejap.

Menggandeng Farm League Production, Billie Joe Armstrong cs menunjukkan kerendahan hati mereka sebagai salah satu band punk terbesar di dunia. Gang-gang sempit di Gilman Street, Oakland, tempat saat di mana mereka masih ugal-ugalan dengan nama Sweet Children jadi salah satu skena unik di film ini.

Tapi, kerendahan hati mereka segera terbantahkan pada Mei 2013 lalu ketika mereka merilis dokumenter lain berjudul “Broadway Idiot” yang berpotensi masuk nominasi untuk Grammy Award 2015.

Bagi Green Day, Mumford and Sons dan Coldplay, yang merupakan angkatan ‘muda’ dengan banyaknya penggemar kelahiran tahun 90-an ke atas, mungkin dokumentari jadi pilihan yang tepat untuk menarik minat penggemar untuk menontonnya.

Lain cerita dengan Paul McCartney dan Ben Harper yang juga masuk di nominasi tahun ini. Angkatan lama ini memilih penampilan langsung dengan tata suara sempurna untuk direkam lewat artistik sinematografi yang mumpuni.

Seperti yang terdapat di “Live Kisses”. Film arahan sutradara Jonas Akerlund tersebut benar-benar menyuguhkan penampilan menyejukkan dari Sir Paul beserta rekan-rekannya dalam proses rekaman album jazz-nya, “Kisses on the Bottom”.

Kehadiran Eric Clapton, Diana Krall hingga Stevie Wonder di proses rekaman yang berlangsung di studio legendaris Capitol Records tersebut membuat film ini hampir mendekati sempurna.

Konsep senada juga diterapkan oleh musisi blues Ben Harper dalam proses rekaman album live-nya bersama legenda hidup Charlie Musslewhite yang berjudul “Get Up!”. Hanya berdurasi dua puluh enam menit, sutrada Danny Clinch berhasil mengemasnya menjadi “I’m In I’m Out and I’m Gone : The Making of ‘Get Up!’” yang seru dan tidak membosankan.

Dari kelima film tersebut, semuanya memiliki nilai jual masing-masing dan hampir setara kualitasnya. Sama-sama bagus, sama-sama menyenangkan untuk ditonton. Baik itu dari sinematografinya, alur ceritanya, live recording-nya, atau bahkan setting tempatnya yang membuat kelima film itu menjadi sangat epik.

Tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat kepada Coldplay, Green Day dan Ben Harper serta Charlie Musslewhite atas film luar biasa mereka, pilihan terberat saya jatuh kepada “The Road to Red Rocks” milik Mumford and Sons serta “Live Kisses” Sir Paul yang paling memungkinkan untuk memenangkan penghargaan tahun ini.

But, who knows? :)

0 notes

KL Gangster 2 : Rebel with a Cause

Menyaksikan film melayu produksi beberapa sineas asal Singapura dan Malaysia belakangan memang menjadi salah satu favorit saya kala jenuh dengan sajian Hollywood yang terkadang seperti kehabisan ide dalam film mereka. Itu bisa dilihat dari banyaknya film adaptasi novel yang rilis tahun ini.

Kali ini, adalah prekuel dari film laga asal Malaysia, ‘KL Gangster’ yang saya simak setelah sebelumnya menahan napas melihat trailer yang mereka rilis pada awal September 2013 atau sekitar satu bulan sebelum jadwal tayangnya di bioskop.

 Masih di bawah arahan sutradara muda Syamsul Yusof, ‘KL Gangster 2’ menceritakan kisah sepak terjang Malek, yang diperankan oleh Aaron Aziz dalam kehidupan gangster di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur. Malek yang berprofesi sebagai teknisi sebuah bengkel mobil, terpaksa memilih cara preman ketika ia dan keluarganya diusik oleh dua kelompok gangster besar.

Malek pun akhirnya bergabung dengan kelompok gangster pimpinan King, dan membantunya untuk merebut kekuasaan dan bisnis gelap mulai dari narkoba hingga perjudian di kawasan-kawasan elit Kuala Lumpur mulai dari Petaling Street hingga downtown KL.

Konflik berkembang ketika Malek dihadapkan pada posisi yang menyulitkan dirinya, di mana di saat yang bersamaan ia juga harus bertarung melawan Tailong, seorang gangster rakus yang belakangan klan-nya diteruskan oleh Dragon, rival Malek berikutnya yang dikisiahkan di ‘KL Gangster’.

Cerita tentang Shark, anak angkat King serta Jai, adik kandung malik membuat materi cerita prekuel ini memenuhi syarat untuk layak disebut sebagai sebuah film prekuel. Selain itu, kehadiran beberapa tokoh wanita lainnya juga berhasil menambah manis film ini.

Adegan aksi dan laga terlihat mendapatkan porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan sekuelnya. Bahkan kali ini, rumah produksi berani menggunakan beberapa properti mahal untuk adegan-adegan seru seperti adu tembak antara helikopter dengan pasukan Tailong di atas gedung, menghancurkan sebuah mobil Polis Diraja Malaysia, hingga kebut-kebutan di jalanan Putrajaya.

Namun sayang, beberapa aktor Indonesia tampaknya masih terlihat lebih bagus untuk urusan adegan martial arts. Karena hampir semua aktor di film ini masih belum bisa menunjukan perkelahian yang ‘profesional’ dan bahkan terlihat seperti sebuah pementasan drama sekolah.

Adegan perkelahian satu lawan satu antara Malek dengan Jai misalnya, sama sekali tidak terlihat seperti memukul sungguhan meski dengan mimik wajah yang serius. Beruntung, kekurangan-kekurangan seperti itu berhasil ditutupi lewat pergerakan kamera yang mencoba mengambil dari sisi-sisi ekstrim.

Dan setidaknya, adegan perkelahian masal di Petaling Street dengan menggunakan beragam senjata serta ciprata darah masih bisa menghibur karena ini memang yang dicari dari sebuah film laga.

Satu kelemahan lain yang membuat film ini menjadi kurang sempurna selain tidak adanya komposer untuk membuat musik latar (film ini menggunakan musik pengiring dari sebuah situs unduh gratis dan mereka menuliskannya di credit title), adalah perpindahan dari satu adegan ke adegan lain yang cenderung kasar.

Beberapa kali saya dibuat bingung dengan jalan cerita film ini karena editing yang sangat tidak memuaskan, ditambah musik latar yang menyebalkan, dan kejadian ini sering terulang selama film diputar. Yang jelas, ini adalah salah satu poin koreksi bagi film-film Malaysia jika ingin menjaga kualitasnya.

Dan yang terakhir, yang juga menjadi ciri khas serta warna tersendiri dari film Melayu yang di mana mayoritas warganya beragama Islam, film ini menyajikan drama dengan memasukan unsur seorang gangster yang beragama Islam lengkap dengan adegan-adegan relijiusnya. Tentu saja ini memiliki rasa yang berbeda dari film gangster a la Hollywood yang biasanya juga sama-sama memasukan unsur religi kristen atau katolik dalam film-film mereka.

Anyway, tiga dari lima bintang tampaknya pantas disematkan bagi film yang juga baru saja memenangi Festival Film Malaysia dengan berhasil menggondol enam penghargaan sekaligus. (Syf)

0 notes

BeIUC About to Held International Conference with IKRAM on September

Bekasi, August 25th 2013. As the youth organization, Bekasi Islamic Youth Camp held a Halal Bi Halal and announced “BeIUC Goes To Malaysia 2013” at DPD, Bekasi. The tour itself will be held at Kuala Lumpur, Malaysia on September 15-18 2013 as the first BeIUC’s event in South East Asia region. This will be the first event overseas and the second tour of BeIUC after Mush’ab Robbany was sent to Istanbul, Turkey last May.

The Halal Bi Halal was attended by Saiful Fathan Azizi (President of BeIUC), Faiz Robbani (Vice President of BeIUC),  and Sri Zulaikha (Board of Supervisors BeIUC). There were several things that announced in the Halal Bi Halal regarding the tour details and the conference program with IKRAM.

The tour itself will be started on 8.00pm (GMT+7) and expected to be lasting around 4 days with 16 agendas, more or less. It also revealed that the tour will be held with the same concept as the IKRAM tour in Bekasi on March 2013, with a little conference as the highlight. The tour promoters are currently waiting for confirmation regarding the possibility of special meeting with other youth organization in Kuala Lumpur.

In the Q&A sections, Azizi revealed that this will be a four day tour due to the tight schedule of the members of BeIUC and IKRAM itself. BeIUC will be expected to arrive in Kuala Lumpur on Sunday evening and depart to the conference venue, right after the touchdown. The promoters also revealed some of the details of BeIUC deals with IKRAM in order to bring a final decision to form a Youth Moslem Board in South East Asia. (syf)

0 notes

Bekasi Islamic Youth Camp Kecam Aksi Pembantaian di Mesir

image

Salah satu organisasi kepemudaan di Bekasi, Bekasi Islamic Youth Camp atau yang lebih dikenal dengan BeIUC, menyatakan sikapnya atas pembantaian warga sipil yang terjadi di Mesir beberapa hari ini. Dengan tegas, BeIUC mengecam aksi yang dilancarkan oleh militer Mesir tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Kabid Diklat BeIUC, Mush’ab Robbany. Ia mengatakan, apa yang telah terjadi di Mesir saat ini adalah sebuah kebiadaban yang perlu dilawan. Karena, hal ini menyangkut maslah HAM dan demokrasi di negara Afrika Utara tersebut.

“Kami dari BeIUC dengan tegas mengecam atas apa yang telah dilakukan oleh militer Mesir kepada warga sipil mereka. Kami mengajak agar semua masyarakat Indonesia khususnya Bekasi bisa memberikan dukungan kepada warga Mesir minimal lewat do’a,” katanya lewat sambungan telepon (15/8).

Tak cuma itu, BeIUC pun turut mendesak Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil tindakan tegas terhadap ketegangan yang terjadi di Mesir lewat aksi unjuk rasa yang akan mereka gelar pada Jum’at (16/8) besok.

“Besok kita akan lancarkan aksi damai bersama dengan para ormas dan dan kelompok pemuda dari Bekasi menuju Bundaran HI. Dari sana, kita nanti akan berorasi di depan Gedung PBB bersama ribuan massa lainnya yang juga mengecam ulah militer itu,” lanjutnya.

Ribuan warga Mesir kembali ditembaki oleh pihak militer yang saat ini mengambil alih posisi pemerintahan Mesir. Aksi protes dari warga Mesir terus berdatangan sejak Presiden terpilih Mohammad Morsi digulingkan oleh militer. (syf)

0 notes

Refleksi Hari Pemuda Sedunia: Mengharumkan Bekasi di Kancah Internasional

Bertempat di TianHe Indoor Stadium, Guangzhou, China. Pada Minggu
(11/8), bendera Merah Putih berkibar di tiang tertingginya, membawahi
bendera merah dengan hiasan bintang kuning milik Republik Rakyat
China, dan bendera bernama Taegukgi kebanggaan warga Korea Selatan.

Hari itu, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir sukses mengukuhkan diri
sebagai pasangan ganda campuran Bulutangkis asal Indonesia sebagai
juara dunia di ajang WBF World Championship 2013. Beberapa jam
setelahnya, pasangan ganda putra Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan menyusul menjadi juara dunia di ajang yang sama.

Hari itu, total dua kali bendera Merah Putih naik di podium tertinggi.
Memberi tahu kepada seluruh dunia bahwa bulutangkis Indonesia telah
kembali menunjukan taringnya. Memberi tahu dunia bahwa pemuda
Indonesia patut diakui di kancah internasional.

Sebuah momen bagi pemuda Indonesia ternyata tak cuma terjadi setiap
tanggal 28 Oktober saja. Di hari yang lain, atau tepatnya pada setiap
12 Agustus, pemuda pun memiliki harinya sendiri. Tak cuma Indonesia,
tapi seluruh dunia.

Bertepatan dengan peringatan Hari Pemuda Sedunia, tak elok rasanya
jika kita yang mengaku sebagai pemuda tidak mengambil semangat dan
refleksi dari peringatan tersebut. Tak ada kewajiban memang. Tapi tak
ada salahnya juga untuk memaknainya sebagai sebuah titik balik menuju kebangkitan pemuda Indonesia.

Memaksimalkan potensi pemuda Indonesia di kancah Internasional,
tampaknya bakal menjadi tema yang pas dalam bahasan kali ini.
Bagaimana tidak? Ditengah pergaulan internasional yang sangat ketat,
Indonesia bisa dikatakan masih tertinggal di banyak sektor dan lini.
Hal ini yang membuat bangsa kita tampaknya belum mampu bersaing dengan baik.

Berbicara mengenai kepemudaan, selama hampir dua tahun belakangan. Saya bergabung bersama sebuah organisasi kepemudaan di kota dimana saya tinggal, Bekasi. Sebuah organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang kreatifitas dan seni khusus untuk pemuda yang berdomisili di Bekasi. Organisasi ini, lebih sering dikenal sebagai Bekasi Islamic Youth Camp. Atau kami menyingkatnya dengan BeIUC.

Apa yang kami lakukan belakangan ini memang lebih difokuskan untuk
memperkaya diri dengan berbagai macam wawasan tentang kesenian,
keagamaan, hingga kearifan lokal. Sebelum mencapai taraf internasional, kami pun terlebih dahulu mencoba mendedikasikan diri
kami sebagai pemuda untuk masyarakat lokal.

Pada 2011, sebuah gerakan yang kami gagas bernama “Napak Tilas Kota Bekasi” berhasil kami gelar dengan mengajak sekitar tiga puluhan
pemuda lainnya untuk menapaktilasi kota kami tercinta ini dengan
serangkaian kegiatan menyenangkan dan mengasyikan.

Lanjut ke tahun 2012, sebuah gerakan yang digagas oleh salah satu
sahabat kami, Riri Azizah Chairiani dalam membangun “Gerakan 1000
Jilbab Untuk Bekasi” sukses digelar pada 23 September 2012 dengan
animo dan sambutan yang luar biasa dari kota yang memiliki sekitar 2,5
juta penduduk ini.

Niat baik dan positif memang selalu mendapatkan jalannya. Hanya dalam waktu beberapa bulan, gerakan tersebut mulai dilaksanakan secara duplikasi di beberapa kota di Jawa Barat. Perlahan tapi pasti,
bibit-bibit kebaikan yang kami coba tanamkan mulai tumbuh bersemi di
beberapa kota di Indonesia dengan bantuan dari rekan seperjuangan kami yang juga merupakan organisasi kepemudaan, Garuda Keadilan.

Dalam tahap ini, tanpa kami sadari, “Gerakan 1000 Jilbab” telah
mencapai taraf nasional untuk pencapaiannya. Belakangan, kami ketahui gerakan ini terus berlanjut bahkan hingga Ramadhan 1434 yang lalu di bilangan Bogor, Jawa Barat.

Sadar memiliki tanggung jawab yang semakin besar bagi kami para pemuda Bekasi, peringatan Hari Pemuda Sedunia ini justru memacu semangat kami untuk bisa mengharumkan nama Bekasi di kancah internasional. Meskipun di sisi lain, kami paham betul masih banyak pekerjaan rumah di Bekasi yang harus kami benahi.

Bobroknya prestasi klub sepakbola lokal Bekasi, penyelenggaraan Abang Mpok Bekasi yang kami anggap hanya menghamburkan uang, mangkaknya pembangunan Stadion Patriot Bekasi, penyalahgunaan dan ketidakjelasan Penerimaan Peserta Didik Baru di Sekolah Negeri di Bekasi, hanyalah sebagian dari begitu banyak isu yang menurut kami menjadi harus menjadi fokus pemuda Bekasi saat ini.

Tapi kami yakin, seiring dengan berjalannya waktu, kami mencoba
mensinergikan pekerjaan rumah kami dengan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan di kancah internasional. Sebelumnya, pada pertengahan Mei 2013 lalu, salah seorang sahabat kami, Mush’ab Abdurrohman Robbani, telah kami kirim ke Istanbul, Turki untuk menghadiri kongres kepemudaan internasional yang diselenggarakan oleh salah satu partai politik berpengaruh di Turki yang memiliki basis pemuda yang cukup kuat, AK Parti.

Disana, Mush’ab dengan lihai berpidato dan berdiplomasi soal Bekasi,
atau lebih luasnya Indonesia. Ledakan bom yang terjadi di bagian Timur
Laut Turki saat hari terakhir kongres, membuat topik perbincangan
mengarah ke isu yang lebih sensitif. Mush’ab pun dengan cara yang
cantik berhasil mengambil banyak pelajaran dan menguasai kondisi itu
dengan baik.

Hasilnya, pada perayaan Idul Fitri 1434 Hijriah yang lalu. Ratusan
orang yang berkumpul di sebuah lapangan Sekolah Dasar di Pondok Gede, duduk khidmat mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh Mush’ab tentang kebangkitan pemuda. Materinya, lebih dari setengahnya adalah hasil risetnya dari kongres yang berlangsung selama 10 hari di Istanbul tersebut.

Usai Mush’ab turun mimbar, gemuruh takbir berkumandang dari para
jama’ah yang khusyuk mendengarkan apa yang disyi’arkan Mush’ab. Pagi itu, kami semakin yakin, bahwa pemuda Bekasi sudah saatnya memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan di mata dunia, dan bisa memberikan manfaat bagi orang banyak.

Mendekati tujuan kami untuk bisa beraksi di kancah internasional, pada
15-18 September 2013 mendatang, Insya Allah kami akan menggelar
kongres sederhana antara kami, Bekasi Islamic Youth Camp, bagian dari
pemuda Bekasi dengan IKRAM, organisasi kepemudaan serupa yang
bermarkas di Kuala Lumpur, Malaysia. Kami pun berencana untuk
bertandang ke negeri tetangga, sebagai salah satu langkah dari tujuan
kami tadi.

Tak ada yang lebih membanggakan ketika bisa mengharumkan nama kota dan negara asal di kancah internasional. Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Muhammad Ahsan, dan Hendra Setiawan adalah sebagian dari stimulator kami untuk bisa mencapai tujuan tersebut.

Suatu hari, kami yakin, pemuda Bekasi bisa melakukan hal yang sama
membanggakannya dengan apa yang empat pebulutangkis tersebut lakukan di mata dunia. Sekali lagi, Happy International Youth Day! Stay
strong, powerful, and rawesome!

Bekasi Islamic Youth Camp

Ahdiar Syaifan/ @TheSyaifan

0 notes

21st Century Youth Volunteerism

Memasuki abad modern seperti saat ini, kesukarelawanan di beberapa negara Asia berhasil tumbuh dan mulai memberikan manfaat tersendiri bagi beberapa bidang. Tak dipungkiri, sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung adalah sebagian dari tempat-tempat yang memiliki berbagai macam gerakan sosial dan munculnya ribuan sukarelawan baru.

Latar belakang rasa kepedulian yang tinggi dirasa cukup besar bagi sejumlah pemuda yang ada di kota-kota tersebut. Usia muda yang penuh dengan rasa keingintahuan membuat mereka mau melakukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain dan pengalaman bagi mereka sendiri. Meskipun itu tidak memberikan manfaat secara materi bagi para sukarelawan tersebut.

Penggunaan sosial media di masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas memang berjalan sangat cepat di Indonesia. Ribuan pemuda dengan mudahnya mengakrabi gadget yang ada di tangan mereka. Penggunaan gadget ternyata jadi alat yang cukup ampuh untuk menyebarluaskan informasi tentang kebutuhan akan sukarelawan dari berbagai daerah.

Puluhan kisah inspirasi dari para sukarelawan yang pernah mengabdi di berbagai pelosok di Indonesia dan sejumlah negara Asia juga jadi salah satu alasan kenapa banyak pemuda kota yang mau melibatkan dirinya ke dalam sebuah organisasi sosial. Di sisi lain, para penggerak aktivitas sosial juga ternyata memang membutuhkan banyak sukarelawan muda yang siap bergabung bersama mereka untuk melakukan suatu hal yang positif.

Di situ lah peran sosial media yang berfungsi menjembatani keinginan kedua pihak tersebut. Akhirnya muncullah suatu gerakan sosial dari segelintir orang yang bertemu di media sosial. Perlahan tapi pasti, mereka memulai gerakan sosial kesukarelawanan tersebut di sekitar Jakarta dan Bandung.

Sebut saja sejumlah gerakan sosial seperti Akademi Berbagi, Indonesia Mengajar, Earth Hour Indonesia, Indonesia Tersenyum, Pasukan Semut, 1000 Jilbab Untuk Bekasi, Jakarta Urban Farming dan masih banyak lagi. Hebatnya, dalam waktu singkat gerakan sosial dan komunitas sukarelawan ini dapat berkembang begitu cepat dan muncul di kota-kota lainnya di Indonesia.

Mereka berhasil membuat cara kerja yang sistematis dan mudah untuk diduplikasi oleh sukarelawan lainnya di daerah terpencil di Indonesia. Layaknya sebuah restoran cepat saji, cabang gerakan sosial dan komunitas sosial tersebut bekerja sama persis seperti yang dilakukan oleh teman-teman pendahulu mereka.

Maka dalam waktu singkat, pemuda di Indonesia pun mulai mau menyisihkan sebagian waktu bermainnya pada akhir pekan untuk berbagi secara sukarela di komunitas atau gerakan sosial yang mereka geluti. Bidangnya pun bermacam-macam, mulai dari pendidikan, ekonomi, olahraga, agama, lingkungan, hingga kesehatan dan kebersihan. Dan gerakan kesukarelawanan ini akan semakin diminati oleh banyak orang ketika mereka mendapatkan dukungan dari pihak sponsor yang memiliki nama besar.

Di sisi lain, peran pemerintah pun hanya sebatas berada di garis formalitas dan selebrasi. Masih sedikit dukungan pemerintah dalam hal ini Indonesia, dirasa masih kurang banyak dengan jumlah sukarelawan dan gerakan sosial itu sendiri yang jumlahnya lebih banyak lagi. Padahal, pemerintah sendiri juga memberikan banyak peluang bagi para sukarelawan untuk bergabung.

Hanya saja, kemasan dan tampilan luar yang tidak begitu menarik dengan mudahnya ditolak oleh para sukarelawan. Ditambah, sikap pemerintah dan parlemen di Indonesia yang sudah dianggap buruk oleh masyarakat termasuk para sukarelawan itu sendiri. Sehingga, mereka pun lebih gencar mencari dukungan melalui pihak swasta ataupun pihak lain yang memang memberikan wadah kreatifitas bagi para sukarelawan ini sesuai minat dan bakat mereka.

Untuk ukuran Indonesia yang memiliki lebih dari 250 juta penduduk di 17 ribu pulau, tentu fenomena maraknya pemuda yang aktif dan berbagi sebagai sukarelawan dalam berbagai macam komunitas dan gerakan sosial bisa dikatakan cukup sukses. Pemanfaatan sosial media dan jejaring internet serta kecanggihan tekonologi lainnya bisa diterapkan dengan tepat dan memberikan manfaat yang lebih baik bagi banyak orang.

Lain Indonesia, lain pula dengan negara Asia lainnya. Perbedaan latar belakang budaya, ekonomi dan euforia para pemuda dalam menyambut kesukarelawanan itu sendiri juga bisa jadi alasan kenapa masih banyak negara di Asia yang belum bisa menerapkan kesukarelawanan pemuda secara tepat di abad ke 21 ini.

Sedikit hal diatas yang bisa saya bagikan mengenai ’21st Century Youth Volunteerism’ ini. Keinginan untuk berbagi dan membangun Asia melalui kesukarelawanan akan selalu tumbuh dan berkembang. Semoga bermanfaat.

Ahdiar Syaifan.