Messed Up No Cure

A LITTLE PART OF WORLD

0 notes

Tugas Baru Para Jurnalis di Sebuah Pantai di Gaza

Bagi jurnalis asing yang tengah meliput konflik antara Palestina dan Israel di Jalur Gaza, Hotel Al Deira adalah hotel terbaik yang biasa mereka tempati selama liputan berlangsung. Fasilitas yang cukup nyaman dan memadai mulai dari makanan, hingga koneksi internet yang stabil adalah salah satu alasan mereka memilih menginap di hotel tersebut.

Selain itu, pemandangannya yang luar biasa indah dari balkon kamar yakni pantai dan Laut Mediterania adalah sajian lain yang mungkin dapat memulihkan sejenak pikiran mereka yang saat bekerja harus berhadapan dengan tumpukan mayat, hingga berada di tengah baku tembak.

Namun sore itu, Rabu (17/7) yang lalu, jam rehat para jurnalis tersebut harus terganggu dengan sebuah ledakan rudal yang terjadi persis di depan hotel mereka. Sebuah pemandangan lain yang tidak biasa mereka lihat sebelumnya di pantai membuat mereka terpaksa angkat kamera.

Empat orang bocah Gaza tewas seketika setelah rudal milik tentara Israel menghantam ke pantai tempat mereka bermain. Melihat insiden tersebut, para jurnalis berhamburan keluar hotel untuk melihat lebih dekat apa yang baru saja terjadi.

Mohammed Bakr (9 Tahun), Ahed Bakr (10 Tahun), Zakaria Bakr (10 Tahun), and Mohammed Bakr (11 Tahun) belakangan diketahui adalah nama-nama dari keempat bocah tersebut. Semuanya adalah saudara sepupu dari keluarga yang sama.

Empat anak kecil tewas, dan di saat yang bersamaan puluhan jurnalis melihat langsung kejadian tersebut. Puluhan gambar dan kicauan muncul seketika dari akun personal para jurnalis. Mereka tentu tidak mengharapkan apa yang mereka laporkan saat itu langsung diproses oleh redaktur di kantor tempat mereka bekerja.

Syok? Tentu saja. Para jurnalis ini ternyata kenal benar dengan anak-anak yang menjadi korban itu. Ayman Mohyeldin, dari NBC News yang belakangan justru ditarik dari Gaza oleh kantor pusatnya lewat Twitter mengaku kenal betul dengan empat bocah tersebut. Ia pun mengatakan sempat bermain bola di pantai bersama mereka beberapa jam sebelumnya.

“Empat bocah Palestina tewas seketika oleh serangan rudal Israel. Beberapa menit sebelum mereka tewas aku sempat bermain bola bersama,” tulis Ayman.

Sedangkan Jonathan Miller dari Channel 4 Inggris, melaporkannya dengan lebih detail lagi lengkap dengan beberapa gambar yang ia unggah. Tak hanya itu, ia juga mengatakan sejumlah jurnalis ikut membantu memboyong empat bocah tewas dan beberapa yang terluka ke tempat yang lebih aman.

“Tiga rudal menghantam pantai di Gaza tepat di sebelah hotelku. Korbannya adalah anak-anak berusia delapan hingga sepuluh tahun. Mereka adalah saudara sepupu, berasal dari keluarga nelayan. Kini para jurnalis ikut menggotong anak yang terluka dari lokasi kejadian,” tulisnya.

Bashar Taleb, jurnalis lokal Palestina menggambarkan dalam sebuah video yang ia rekam dan mengunggahnya di Facebook bagaimana restoran beach view Hotel Al Deira menjadi Unit Gawat Darurat seketika setelah dua anak yang terluka harus mendapatkan pertolongan pertama dari para tim medis yang mengenakan rompi press dan membawa kamera.

Sehari setelahnya, pihak Pasukan Pertahanan Israel mengatakan kepada Anshell Pfeffer, jurnalis Haaretz, koran Israel bahwa pasukannya tersebut salah sasaran saat membunuh empat bocah yang tengah bermain bola itu. Mereka mengaku, empat bocah tersebut terlihat seperti pasukan Hamas yang mencoba melarikan diri.

Tentu saja pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan apa yang para jurnalis asing lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Dari pengamatan dan investigasi yang dilakukan setelah insiden, hampir semua jurnalis sepakat Israel memang mengincar empat bocah tersebut.

“Rudal pertama mengenai tembok pelabuhan. Tembok itu sudah tertembak sebelumnya beberapa hari yang lalu. Aku berasumsi itu hanyalah sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Namun tembakan berikutnya adalah rudal yang diatur untuk mengenai korban,” tulis Peter Beaumont dari Guardian di akun Twitternya.

Membunuh anak-anak di pantai dengan disaksikan jurnalis secara langsung adalah sebuah tindakan yang jelas-jelas mengerikan dan tidak masuk akal. Para jurnalis bahkan kini harus mendapatkan pekerjaan tambahan selain meliput dan menyelamatkan diri jika terjebak dalam kondisi sulit, mereka juga harus melakukan pertolongan pertama kepada para bocah yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan sedikitnya ada 71 anak-anak dari 308 korban tewas di hari ke-13 agresi Israel ke Jalur Gaza. Tak hanya itu, mereka juga mengincar wanita dan lansia ketimbang pejuang Hamas yang sebenarnya melakukan perlawanan terhadap mereka. (Syf)

Ditulis ulang seperti yang diceritakan oleh jurnalis-jurnalis yang berada di lokasi dari The Washingon Post, Guardian, Wall Street Journal, Channel 4 dan NBC News.

1 note

Bangkitkan Film Islami, Kenapa Tidak?

image

Akhir April 2014 lalu, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya. Isinya, seorang siswi SMA di Bekasi menawarkan saya untuk menjadi salah satu juri di kompetisi film pendek sekolah mereka dalam rangka acara tahunan yang memang rutin diselenggarakan.

Mendapatkan pesan tersebut, tentu saja saya cukup kaget. Seorang amatir dalam urusan film seperti saya diminta untuk menjadi salah satu juri kompetisi film. Setelah ditelusuri lebih lanjut, siswi tersebut mengaku mendapatkan kontak saya dari seorang senior yang juga mantan pemimpin redaksi di tempat saya bekerja dulu.

Dengan mantap, saya coba mengiyakan permintaan siswi tersebut. Pengalaman pertama pikir saya. Tak lama, siswi tadi mengirimkan sejumlah detail acara dan kompetisi yang dimaksud. Sebuah pentas seni dengan konsep Islami yang digagas oleh aktivis rohis sekolah mereka.

Islami. Itu adalah kata pertama yang saya garis bawahi soal tawaran menjadi juri di pentas seni ini. Menarik, karena tidak banyak sekolah yang memiliki aktivis rohis yang banyak hingga bisa mengadakan acara seperti ini.

Sepengetahuan saya, hanya ada segelintir sekolah di Bekasi yang rutin mengadakan acara seni dengan konsep islami seperti ini.

Lupakan bayangan soal dana sponsor yang mengucur deras, panggung megah, atau bahkan artis dan musisi pengisi acara yang bertaraf nasional. Semua itu tidak ada di pentas seni Islami semacam ini. Paling banter, hanya panggung mini serta rapper dan musisi akustik yang membawakan lagu bernuansa Islami.

Tidak ada yang masalah dengan hal itu. Acara sederhana dengan kemasan semenarik mungkin sudah jadi barang hiburan yang akan sangat berkesan buat para aktivis yang selalu mencoba menyampaikan amar makruf nahi mungkar walaupun satu ayat kepada teman-temannya.

Beragam lomba dan kompetisi digelar di acara ini. Masing-masing perwakilan sekolah se-Jabodetabek menampilkan yabg terbaik yang mereka punya. Khusus lomba film pendek islami, ini adalah kali pertamanya diadakan selama pentas seni islami mulai digalakan kembali di Bekasi sekitar 10 tahun yang lalu.

Dari puluhan sekolah yang mendaftar untuk ikut di pentas seni islami ini, terhitung ada enam sekolah yang mengirimkan materi filmnya. Semua film yang dilombakan tersebut berasal dari sekolah yang berdomisili di Bekasi.

Saya sendiri terkejut karena baru kali ini melihat secara langsung tindak nyata kreativitas anak-anak SMA Bekasi ternyata mau dan memiliki minat besar untuk menyalurkan ide-idenya lewat gambar bergerak.

Menonton enam film sekaligus dalam kurun waktu kurang lebih tiga jam adalah pengalaman pertama saya. Apalagi itu dilakukan di sebuah auditorium sekolah negeri paling favorit di Bekasi. Setelah melakukan setelah melakukan screening dan mendengarkan presentasi singkat dari masing-masing pembuat film, giliran saya memberikan penilaian untuk siapa yang pantas jadi yang terbaik.

Tiga dari enam film tampak seragam dengan mengambil tema cerita yang masih berkutat di lingkungan pengurus rohis. Begitu juga dengan setting lokasi yang mereka gunakan, lagi-lagi kelas, masjid, dan halaman sekolah dijadikan andalan di film mereka.

Sedangkan tiga film lainnya, walaupun masih bertemakan tentang anak sekolah, mereka berani mengambil sudut pandang cerita yang berbeda dibanding tiga film sebelumnya. Tiga film terakhir ini saya jagokan sebagai pemenang dari kompetisi kali ini. Selain karena mereka menampilkan teknik sinematografi yang cukup memuaskan untuk ukuran anak SMA, ketiga film ini juga sangat tepat dalam merepresentasikan pilihan tema yang diajukan oleh panitia.

Belajar dari pengalaman ini, saya pun kemudian berpikir untuk menindaklanjuti para sineas-sineas muda yang berhasil mewujudkan buah pikir mereka dengan sebuah karya yang mengesankan. Yang terpenting, film-film yang mereka produksi tersebut adalah manifestasi dari ayat-ayat suci Al Quran dan nilai-nilai Islami yang memang seharusnya bisa hadir ditengah-tengah masyarakat dan dinikmati lewat media hiburan seperti film ini.

Bukan apa-apa, kita bisa lihat sejauh ini hanya sedikit rumah produksi dan sineas yang mau mengangkat film-film bertemakan Islami di layar lebar. Padahal menurut saya, akan sangat sah-sah saja jika film Islami diproduksi dan bisa tampil di layar lebar setidaknya empat film per tahunnya.

Meski ada yang mengatakan bahwa film seperti itu cukup ditampilkan lewat sinetron yang hanya ditayangkan saat bulan Ramadhan saja, tetap saja menurut saya film Islami harus mendapatkan tenpat dan porsi tersendiri dari para penikmat sinema.

Dalih tidak adanya pasar yang mau menonton film islami, justru menurut saya itu menjadi sebuah tantangan bagi para sineas Islam yang ingin berdakwah lewat karya seninya. Lalu ke mana persepsi kalian soal membentuk pasar yang selama ini diagung-agungkan? Bukankah hal itu juga bisa diterapkan dalam produksi film Islami?

Bagaimana pun caranya, suatu hari saya yakin bahwa film Islami Indonesia akan menjadi sebuah komoditi yang menarik bagi para produser dan bahkan memiliki kolom tersendiri di majalah-majalah film ternama.

Belum lama ini, saya mendapatkan kabar bahwa sebuah komunitas yang berisi para pembaca Al Quran di Indonesia akan segera merilis film layar lebar pertamanya, setelah beberapa waktu lalu mereka sempat mendapatkan apresiasi yang cukup meriah lewat film pendek yang ditayangkan lewat sosial media berbagi video, YouTube.

Semoga saja, lewat film tersebut dan film-film lain yang digagas oleh para sineas Islam bisa memberikan sebuah gagasan budaya yang perlu diteladani oleh banyak masyarakat. Serta memberikan manfaat dan hiburan yang sehat dan menyegarkan tentunya.

Hidup film Indonesia!

0 notes

Menikmati Film ala Juri Academy Awards

image

Dua kali sudah saya salah beranggapan tentang suatu film yang posternya terpampang di bioskop-bioskop di Jakarta. Yang pertama adalah ‘Life of Pi’ (2012) Masterpiece sutradara Ang Lee yang juga menggarap sebuah film perjalanan cikal bakal festival musik terbesar di dunia yang menampilkan banyak orang telanjang, ‘Taking Woodstock’ (2009).

Melihat posternya, saat itu saya sama sekali tidak tertarik untuk membeli tiket dan menghabiskan waktu di dalam studio sambil menggenggam sekarton jagung berondong atau minuman bersoda. Karena, memang sama sekali tidak ada point of interest dari poster film tersebut, sekalipun setelah menonton trailernya di YouTube.

Hanya seorang India yang berdampingan dengan seekor Harimau Bengal dengan latar belakang pemandangan indah seperti surga. Standar. Benar-benar tidak ada sesuatu yang menjadi kail pengait buat saya dari film tersebut saat itu.

Beberapa bulan setelahnya, alangkah kagetnya saya ketika melihat Ang Lee berdiri di panggung Dolby Theatre dan membacakan pidato singkatnya sambil memegang sebuah trofi berwarna keemasan yang sudah tidak asing lagi bagi para pecinta film.

Ang Lee mendapatkan penghargaan sebagai Sutradara Terbaik di ajang Academy Awards 2013 lewat filmnya yang saya anggap tidak menarik sama sekali. Saya termenung. Ya sudahlah. Toh, saya akhirnya menyempatkan diri untuk menonton ‘Argo’ (2012) arahan Ben Affleck yang dianugerahi sebagai film terbaik saat itu.

Dan hanya beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya mendapatkan file soft copy film Ang Lee tersebut setelah seorang teman membeli DVD aslinya secara online dan melakukan ripping hanya untuk saya tonton.

Sedikit dialog, lebih banyak berpikir, lebih membutuhkan kejelian, kesabaran, dan perasaan yang peka untuk benar-benar menikmati film tersebut. Ketika kredit titel muncul di akhir film, saya memuji habis-habisan soal apa yang diperbuat Ang Lee dengan tangan Tuhannya untuk sebuah gambar bergerak berdurasi lebih dari dua jam tersebut.

Anggapan saya soal tidak ada sisi menariknya sama sekali benar-benar terbantahkan di film tersebut. Wajar jika Ang Lee mendapatkan penghargaan tersebut.

Dan belum lama ini, momen yang sama kembali terulang setelah mengingat pada tahun lalu, tak lama setelah Academy Awards 2013, saya dengan sangat tajam mengatakan kepada diri saya sendiri, “Apa serunya menonton film luar angkasa tanpa aktris seksi dan posternya yang membosankan?”

Poster film yang saya maksud saat itu adalah ‘Gravity’ karya Alfonso Cuaron. Jelas, ketika itu saya memilih menonton thriller canggih besutan Upi yang sempat masuk ke SXSW Festival, ‘Belenggu’.

Dan betapa terkejutnya saya ketika beberapa pekan lalu mengetahui nama Alfonso Cuaron muncul sebagai sutradara terbaik untuk film ‘Gravity’ di Academy Awards 2014. Belum selesai terkejut, Ellen de Generes bersama rekan-rekan selebriti lainnya mengumumkan bahwa ‘Gravity’ ternyata juga sukses menggondol enam nominasi lainnya. Salah satunya untuk kategori Best Special Effect.

Sama seperti ‘Life of Pi’, saya pun mencari versi cakram padat dari science fiction yang ternyata menampilkan Sandra Bullock secara penuh hampir 80 menit lamanya. Membosankan seperti posternya? Sama sekali tidak!

Persis saat selesai menonton petualanga Pi dan Harimau liarnya, saya kembali menguras tenaga dan pikiran untuk benar-benar menikmati ‘Gravity’. Sedikit dialog, lebih banyak berpikir, lebih membutuhkan kejelian, kesabaran, dan perasaan yang peka.

Meski tanpa durasi panjang seperti di kisah Benjamin Northup dalam ’12 Years A Slave’ yang menjadi gambar bergerak terbaik di Academy Awards 2014, Alfonso Cuaron sukses membawa penonton dalam dimensi lain tentang luar angkasa yang indah dan lebih realistis serta manusiawi. Walaupun sejumlah kritikus memprotes soal rambut Bullock di film tersebut.

Belajar dari dua pengalaman tersebut, tentu ini membuat saya akan lebih aware dan selektif lagi soal film-film yang akan saya tonton. Tidak hanya dari posternya, trailernya, atau materi promosi lainnya. Karena memang, terkadang kejutan itu muncul di film-film yang berkualitas dan selalu mengundang decak kagum penonton.

Dan lagi, yang terpenting adalah bagaimana cara menikmati film-film yang bertebaran ini dengan lebih bijaksana layaknya mereka yang berada di belakang meja dan memutuskan Jared Leto membawa satu Piala Oscar untuk pemeran pendukung terbaik, atau malah Lupita Nyong’O yang harus rela dicambuk berkali-kali untuk berjalan di karpet merah Academy Awards 2014 sebagai aktris utama terbaik.

Siapa yang tahu ‘The Raid 2: Berandal’ akan memboyong satu Piala Oscar di Academy Awards 2015. Siapa yang tahu.. kecuali mereka yang berada di balik meja yang pada akhirnya memaksa saya menonton ‘Life of Pi’ dan ‘Gravity’..

0 notes

Single Review : Neon Bunny - It’s You

Puas mendengarkan album ‘Seoulight’ rilisan 2011 dari Neon Bunny, tiba-tiba saya mendapatkan kabar dari ranah Twitter bahwa penyanyi solo pemilik nama asli Im Yoo Jin tersebut akan segera merilis single terbaru dalam waktu dekat. Tentu saja ini tidak boleh dilewatkan.

Hanya beberapa hari setelah ia memberikan pengumumannya di Twitter, Neon Bunny resmi merilis single terbarunya via Mnet dan YouTube berjudul ‘It’s You’.

Menyimak single terbarunya sambil melihat karya visual yang mengiringi, tentu akan memberikan pengaruh yang begitu signifikan terhadap single ini. Dengan suasana yang gloomy, masih ada beberapa bebunyian synth, lagu ini justru terdengar sejuk.

Lupakan soal isi liriknya, Neon Bunny masih bisa menyajikan musik khas dirinya di album-album terdahulu. Tapi memang, lagu ini sangat mengingatkan saya akan lagunya yang berjudul “나와 둘이”.

Menarik untuk menunggu kelanjutan dari single Neon Bunny ini. Tapi tetap saja, saya lebih merindukan lagu-lagu Neon Bunny berikutnya yang mengusung tema-tema dan irama yang lebih sweet dan ceria.

So, we’re waiting for your next album, Neon Bunny!  

1 note

5 Korean Bands to Watch in 2014 (Not Boybands)

Tiga tahun terakhir mengikuti perkembangan K-Pop, ternyata membuat saya melupakan beberapa band favorit dari luar maupun dalam negeri yang memiliki kualitas musik mumpuni. Lama kelamaan, saya mulai jengah dengan aksi boyband-girlband Korea yang semakin seragam dan membosankan.

Terima kasih untuk internet yang membuat pekerjaan kita semakin mudah, hingga akhirnya juga bisa membawa saya berkenalan dengan lima band asal Korea Selatan yang berhasil menghancurkan stigma saya soal musik pop Korea.

Dan kali ini, saya ingin berbagi tentang lima band Korea Selatan tersebut. Bukan, ini bukan band Korea jadi-jadian macam CN Blue atau FT Island. Saya berani bertaruh dua tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Seoul untuk membuktikan bahwa kelima band ini adalah band sungguhan.

No Reply

Yang pertama adalah sebuah band pop ballad bernama No Reply. Silahkan ketikkan nama mereka di kanal YouTube atau Google, maka anda akan menemukan sebuah lagu lawas milik The Beatles berjudul sama.

Debut di awal tahun 2008, No Reply menyajikan musik pelan dengan tema-tema romantis yang membuat pendengarnya akan mengira bahwa mereka adalah pemusik langganan pengisi soundtrack drama-drama Korea.

Tapi, dugaan itu salah besar. Meskipun, lagu-lagu yang diciptakan oleh No Reply dalam empat album mereka hingga tahun 2011 memang terdengar seperti lagu pop Korea lainnya.

Coba dengarkan album mini mereka ‘Comma’ yang rilis pada 2011 silam. Maka anda bisa memberikan perbedaan dari petikan gitar dan dentingan piano yang mereka mainkan ketimbang musik-musik pop lainnya.

Belum ada data lengkap soal band ini. Sejumlah albumnya bisa diunduh di beberapa kanal blog musik indie Korea.

 Cockrasher

Berisi empat pemuda Korea yang suka dengan hingar bingar, Cockrasher adalah sebuah unit pop punk asal Seoul yang memainkan lagu-lagu a la NOFX dan Social Distortion. Saya menemukan mereka di sebuah kanal YouTube saat mereka tampil untuk stasiun TV Online, Balcony TV.

Sudah aktif bermain di skena punk Seoul sejak tahun 2004, Cockrasher jadi salah satu penampil yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang kala sebuah gig digelar di akhir pekan. Hal ini terlihat dari sejumlah video mereka saat membawakan nomor-nomor seperti ‘Turning Point’, ‘Victory’ atau ‘Call Us On Both Hands’.

Sama seperti No Reply, sedikit sekali informasi yang bisa saya dapatkan tentang Cockrasher. Sejauh ini mereka juga tampaknya belum memiliki video musik atau bahkan album rilisan. Sebagai perkenalan, saya sarankan untuk menonton aksi mereka saat membawakan ulang lagu ‘As Whicked’ milik salah satu dedengkot punk, Rancid.

Fuck K-Pop, here we go K-Punk!

 Coreyah

Coreyah adalah sebuah kolektif folk asli Seoul yang berani mengeksplor kekayaan musik tradisional mereka lewat lagu-lagu epik seperti ‘A Girl From Space’ dan ‘Walk Into See’. Perpaduan sempurna antara melodi masa kini dengan petikan Gayageum, kerincingan, hingga bebunyian tradisional Korea lainnya, membuat Coreyah sedikit rumit untuk dinikmati.

Bagi penggemar band folk asal Islandia, Sigur Ros, musik yang dibawakan Coreyah mungkin tidak begitu asing. Musik-musik yang dimainkan oleh Coreyah juga berhasil mengingatkan saya akan musisi Indonesia yang juga memiliki warna yang sama seperti penyanyi lawas Leo Kristi dan band Payung Teduh.

Coreyah sendiri diketahui sudah pernah bermain dan kolaborasi bersama beberapa musisi papan atas Korea seperti Hareem. Pada akhir tahu 2013 yang lalu, grup ini juga baru saja diundang tampil di beberapa acara musik di Edinburgh, Skotlandia.

Silahkan nikmati permainan apik band ini lewat kanal YouTube mereka, CoreyahMusic.

Neon Bunny

Pernah belajar di Berklee College of Music, Amerika Serikat ternyata benar-benar mempengaruhi selera musik seorang perempuan cantik bernama asli Im Yoo Jin ini. Nggak cuma itu, tumbuh di lingkungan klub jazz milik orang tuanya juga menjadi alasan kenapa akhirnya ia memilih musik sebagai jalan hidupnya.

Menampilkan musik-musik elektro pop yang catchy dan menggoda, membuat Neon Bunny menarik banyak perhatian pecinta musik independen. Bagaimana tidak, dikala perempuan Seoul lainnya berebut untuk masuk ke agensi K-Pop raksasa, ia malah melenggang seorang diri membuat musik dengan tingkat groovy maha tinggi.

Pengikutnya di Twitter pun tak terlalu banyak, hanya sekitar 300-an. Itu adalah salah satu bukti bahwa masih segelintir orang yang mengetahui soal dirinya.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Nylon, Yoo Jin pernah mengatakan, “Sangat sulit untuk bisa survive di industri musik Korea Selatan yang didominasi para idola K-Pop. Hal ini membuat saya sedih dan terkadang saya sering berpikir kenapa mau melakukan hal ini. Tapi aku hanya mau melakukan apa yang aku suka,” ungkapnya.

Penasaran dengan aksi kelinci neon yang akan jadi kebanggaan Korea ini, simak beberapa nomor andalannya seperti ‘Come A Little Closer’. Dan.. ssstt! Saya baru saja dimention olehnya ia Twitter soal single terbarunya yang akan rilis dalam waktu dekat.

WHOwho

Saran pertama ketika anda akan mencoba mencari band ini di internet adalah, jangan coba memberikan spasi di nama band pop rock beranggotakan empat orang ini. Saya sendiri butuh waktu beberapa jam untuk mencari kembali band ini setelah beberapa bulan lalu saya baca di sebuah majalah indie Korea.

Mendengar WHOwho buat saya seperti sedang menyetel lagu Daft Punk dan Mamas Gun di waktu yang bersamaan. Musik yang mereka racik adalah perpaduan antara rock praktis dengan pop elektronik menggelitik yang sukses membuat anda bergoyang begitu mendengarnya.

Penggunaan synth yang hampir mendominasi di banyak lagu WHOwho, membuat mereka memiliki ciri khas sendiri terutama bagi penggemar luar negeri. Pelafalan bahasa Inggris yang sangat fasih juga jadi satu materi pengenalan yang berkesan serta suara sang vokalis yang membuat banyak perempuan luluh hatinya.

Sejauh ini, yang masih jadi perbincangan di dunia maya adalah lagu mereka yang berjudul ‘Her’, Dance In The Rain’, ‘Your Eyes’ dan ‘Bye Bye’.

Honorary Mention

Yoon Do Hyun Band

Nell

Sweet Sorrow

0 notes

Perang Dokumentari dan Live Recording untuk Film Musik Terbaik di Grammy Awards 2014

Grammy Awards 2014 akan segera digelar pada Minggu, 26 Januari mendatang. Ratusan artis peraih nominasi pun disambut gegap gempita oleh para penggemarnya. Nama-nama seperti Macklemore & Ryan Lewis, Daft Punk, Lorde hingga Justin Timberlake jadi yang paling dipuja di Grammy edisi ke-56 ini.

Dari sekian puluh nominasi yang akan diberikan, mata saya tertuju hanya kepada satu nominasi yang sedikit berbeda dibandingkan dengan nominasi lainnya. Yakni nominasi untuk kategori Best Music Film. Bukan video musik biasa, tapi sebuah video berdurasi panjang yang punya cerita.

Tahun lalu, sutradara dengan jam terbang sangat tinggi, Emmett Malloy berhasil menyabet penghargaan Grammy di nominasi ini lewat film dokumentarinya yang berjudul “Big Easy Express”. Sebuah video yang bercerita tentang kolektif grup musik yang terdiri dari Mumford and Sons, Edward Sharpe and Magnetic Zeros dan Old Crow Medicine Show dalam rangkaian tur mereka dari San Fransisco hingga New Orleans di atas sebuah kereta api tua.

Seperti kurang puas dengan kerja keroyokan semacam itu, Mumford and Sons tahun ini tampaknya ingin lebih menonjolkan diri mereka lagi. Hanya saja, tidak melalui album seperti “Babel” yang juga berhasil meraih Grammy tahun lalu, Mumford and Sons memilih media dokumenter tentang konser mereka di Amphitheater Red Rocks pada 2012 silam.

Diarahkan oleh duet sutradara Fred dan Nick, film berjudul “The Road to Red Rocks” menyajikan penampilan apik Mumford and Sons dalam konser sold out tersebut. Tanpa banyak basa-basi atau wawancara yang pernah mereka lakukan seperti di “Big Easy Express”, mereka menampilkan 90 menit kualitas permainan dari kuintet asal London tersebut.

Tempat konser yang bersejarah, audio live recording yang memukau, serta sinematografi yang unik jadi andalan Mumford and Sons di film ini. Satu tempat dirasa pantas untuk membuat mereka kembali memenangkan Grammy Award.

Trend dokumentari tampaknya benar-benar sedang diminati para sutradara belakangan ini. Termasuk dengan dua sutradara dari dua film lainnya yang juga masuk di nominasi ini.

Sebut saja Coldplay, yang percaya diri berani merekam keseluruhan rangkaian konser mereka sepanjang tahun 2012 silam di seluruh dunia. Aksi panggung dan kemegahan band asal Inggris ini dibalut sempurna dengan kisah-kisah belakang panggung mereka yang terjadi di stadion-stadion raksasa.

Begitu juga dengan Green Day, yang secara mengejutkan setelah merilis album triloginya pada 2012 lalu kemudian melengkapinya menjadi kuadrilogi dengan sebuah film dokumenter berjudul “Cuatro!”. Film yang berisi cerita dibalik layar proses pembuatan album “Uno”, “Dos” dan “Tre” tersebut pun laris dalam sekejap.

Menggandeng Farm League Production, Billie Joe Armstrong cs menunjukkan kerendahan hati mereka sebagai salah satu band punk terbesar di dunia. Gang-gang sempit di Gilman Street, Oakland, tempat saat di mana mereka masih ugal-ugalan dengan nama Sweet Children jadi salah satu skena unik di film ini.

Tapi, kerendahan hati mereka segera terbantahkan pada Mei 2013 lalu ketika mereka merilis dokumenter lain berjudul “Broadway Idiot” yang berpotensi masuk nominasi untuk Grammy Award 2015.

Bagi Green Day, Mumford and Sons dan Coldplay, yang merupakan angkatan ‘muda’ dengan banyaknya penggemar kelahiran tahun 90-an ke atas, mungkin dokumentari jadi pilihan yang tepat untuk menarik minat penggemar untuk menontonnya.

Lain cerita dengan Paul McCartney dan Ben Harper yang juga masuk di nominasi tahun ini. Angkatan lama ini memilih penampilan langsung dengan tata suara sempurna untuk direkam lewat artistik sinematografi yang mumpuni.

Seperti yang terdapat di “Live Kisses”. Film arahan sutradara Jonas Akerlund tersebut benar-benar menyuguhkan penampilan menyejukkan dari Sir Paul beserta rekan-rekannya dalam proses rekaman album jazz-nya, “Kisses on the Bottom”.

Kehadiran Eric Clapton, Diana Krall hingga Stevie Wonder di proses rekaman yang berlangsung di studio legendaris Capitol Records tersebut membuat film ini hampir mendekati sempurna.

Konsep senada juga diterapkan oleh musisi blues Ben Harper dalam proses rekaman album live-nya bersama legenda hidup Charlie Musslewhite yang berjudul “Get Up!”. Hanya berdurasi dua puluh enam menit, sutrada Danny Clinch berhasil mengemasnya menjadi “I’m In I’m Out and I’m Gone : The Making of ‘Get Up!’” yang seru dan tidak membosankan.

Dari kelima film tersebut, semuanya memiliki nilai jual masing-masing dan hampir setara kualitasnya. Sama-sama bagus, sama-sama menyenangkan untuk ditonton. Baik itu dari sinematografinya, alur ceritanya, live recording-nya, atau bahkan setting tempatnya yang membuat kelima film itu menjadi sangat epik.

Tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat kepada Coldplay, Green Day dan Ben Harper serta Charlie Musslewhite atas film luar biasa mereka, pilihan terberat saya jatuh kepada “The Road to Red Rocks” milik Mumford and Sons serta “Live Kisses” Sir Paul yang paling memungkinkan untuk memenangkan penghargaan tahun ini.

But, who knows? :)

0 notes

KL Gangster 2 : Rebel with a Cause

Menyaksikan film melayu produksi beberapa sineas asal Singapura dan Malaysia belakangan memang menjadi salah satu favorit saya kala jenuh dengan sajian Hollywood yang terkadang seperti kehabisan ide dalam film mereka. Itu bisa dilihat dari banyaknya film adaptasi novel yang rilis tahun ini.

Kali ini, adalah prekuel dari film laga asal Malaysia, ‘KL Gangster’ yang saya simak setelah sebelumnya menahan napas melihat trailer yang mereka rilis pada awal September 2013 atau sekitar satu bulan sebelum jadwal tayangnya di bioskop.

 Masih di bawah arahan sutradara muda Syamsul Yusof, ‘KL Gangster 2’ menceritakan kisah sepak terjang Malek, yang diperankan oleh Aaron Aziz dalam kehidupan gangster di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur. Malek yang berprofesi sebagai teknisi sebuah bengkel mobil, terpaksa memilih cara preman ketika ia dan keluarganya diusik oleh dua kelompok gangster besar.

Malek pun akhirnya bergabung dengan kelompok gangster pimpinan King, dan membantunya untuk merebut kekuasaan dan bisnis gelap mulai dari narkoba hingga perjudian di kawasan-kawasan elit Kuala Lumpur mulai dari Petaling Street hingga downtown KL.

Konflik berkembang ketika Malek dihadapkan pada posisi yang menyulitkan dirinya, di mana di saat yang bersamaan ia juga harus bertarung melawan Tailong, seorang gangster rakus yang belakangan klan-nya diteruskan oleh Dragon, rival Malek berikutnya yang dikisiahkan di ‘KL Gangster’.

Cerita tentang Shark, anak angkat King serta Jai, adik kandung malik membuat materi cerita prekuel ini memenuhi syarat untuk layak disebut sebagai sebuah film prekuel. Selain itu, kehadiran beberapa tokoh wanita lainnya juga berhasil menambah manis film ini.

Adegan aksi dan laga terlihat mendapatkan porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan sekuelnya. Bahkan kali ini, rumah produksi berani menggunakan beberapa properti mahal untuk adegan-adegan seru seperti adu tembak antara helikopter dengan pasukan Tailong di atas gedung, menghancurkan sebuah mobil Polis Diraja Malaysia, hingga kebut-kebutan di jalanan Putrajaya.

Namun sayang, beberapa aktor Indonesia tampaknya masih terlihat lebih bagus untuk urusan adegan martial arts. Karena hampir semua aktor di film ini masih belum bisa menunjukan perkelahian yang ‘profesional’ dan bahkan terlihat seperti sebuah pementasan drama sekolah.

Adegan perkelahian satu lawan satu antara Malek dengan Jai misalnya, sama sekali tidak terlihat seperti memukul sungguhan meski dengan mimik wajah yang serius. Beruntung, kekurangan-kekurangan seperti itu berhasil ditutupi lewat pergerakan kamera yang mencoba mengambil dari sisi-sisi ekstrim.

Dan setidaknya, adegan perkelahian masal di Petaling Street dengan menggunakan beragam senjata serta ciprata darah masih bisa menghibur karena ini memang yang dicari dari sebuah film laga.

Satu kelemahan lain yang membuat film ini menjadi kurang sempurna selain tidak adanya komposer untuk membuat musik latar (film ini menggunakan musik pengiring dari sebuah situs unduh gratis dan mereka menuliskannya di credit title), adalah perpindahan dari satu adegan ke adegan lain yang cenderung kasar.

Beberapa kali saya dibuat bingung dengan jalan cerita film ini karena editing yang sangat tidak memuaskan, ditambah musik latar yang menyebalkan, dan kejadian ini sering terulang selama film diputar. Yang jelas, ini adalah salah satu poin koreksi bagi film-film Malaysia jika ingin menjaga kualitasnya.

Dan yang terakhir, yang juga menjadi ciri khas serta warna tersendiri dari film Melayu yang di mana mayoritas warganya beragama Islam, film ini menyajikan drama dengan memasukan unsur seorang gangster yang beragama Islam lengkap dengan adegan-adegan relijiusnya. Tentu saja ini memiliki rasa yang berbeda dari film gangster a la Hollywood yang biasanya juga sama-sama memasukan unsur religi kristen atau katolik dalam film-film mereka.

Anyway, tiga dari lima bintang tampaknya pantas disematkan bagi film yang juga baru saja memenangi Festival Film Malaysia dengan berhasil menggondol enam penghargaan sekaligus. (Syf)

0 notes

BeIUC About to Held International Conference with IKRAM on September

Bekasi, August 25th 2013. As the youth organization, Bekasi Islamic Youth Camp held a Halal Bi Halal and announced “BeIUC Goes To Malaysia 2013” at DPD, Bekasi. The tour itself will be held at Kuala Lumpur, Malaysia on September 15-18 2013 as the first BeIUC’s event in South East Asia region. This will be the first event overseas and the second tour of BeIUC after Mush’ab Robbany was sent to Istanbul, Turkey last May.

The Halal Bi Halal was attended by Saiful Fathan Azizi (President of BeIUC), Faiz Robbani (Vice President of BeIUC),  and Sri Zulaikha (Board of Supervisors BeIUC). There were several things that announced in the Halal Bi Halal regarding the tour details and the conference program with IKRAM.

The tour itself will be started on 8.00pm (GMT+7) and expected to be lasting around 4 days with 16 agendas, more or less. It also revealed that the tour will be held with the same concept as the IKRAM tour in Bekasi on March 2013, with a little conference as the highlight. The tour promoters are currently waiting for confirmation regarding the possibility of special meeting with other youth organization in Kuala Lumpur.

In the Q&A sections, Azizi revealed that this will be a four day tour due to the tight schedule of the members of BeIUC and IKRAM itself. BeIUC will be expected to arrive in Kuala Lumpur on Sunday evening and depart to the conference venue, right after the touchdown. The promoters also revealed some of the details of BeIUC deals with IKRAM in order to bring a final decision to form a Youth Moslem Board in South East Asia. (syf)